Korea adalah negara yang memiliki evolusi tercepat dalam budaya minum kopi. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi kopi dan terbentuknya kedai kopi di Seoul bahkan mengalahkan Seattle dan San Fransisco sebagai kota yang terkenal akan budaya ngopinya. Budaya minum kopi di Korea semakin berkembang dari masa ke masa, berikut perkembangannya dari dulu sampai sekarang!

Sejarah munculnya kopi di Korea sendiri dimulai saat pemerintahan kaisar Gojong di tahun 1986. Saat itu Antoinette Sontag, ipar seorang duta Rusia, menyajikan secangkir kopi kepada kaisar Gojong. Karena menyukai rasanya, sang kaisar pun memperbolehkan Antoinette membuka Dabang (kedai kopi) pertama di Korea tahun 1902 untuk para diplomat dan pejabat berkedudukan tinggi. Setelah itu, selama bertahun-tahun kopi menjadi barang mewah yang diperuntukkan untuk kelas atas, melambangkan westernisasi modern, budaya, dan status.

Kaisar Gojong

Pada tahun 1960-an, Dabang akhirnya dibuka untuk warga kelas menengah dan menjadi tempat populer untuk berkencan. Produksi kopi instan juga sudah dimulai di tahun-tahun ini. Tahun 1970-an gagasan tentang Dabang bertema musik dengan DJ menjadi populer di antara mahasiswa. Mesin penjual kopi pun mulai marak ditemukan. Di masa ini juga budaya minum kopi di Korea mulai terlihat beralih, dari yang asalnya untuk kaum-kaum atas, berubah jadi bisa dinikmati oleh kaum menengah.

Dengan masuknya banyak waralaba asing di tahun 1990-an, persaingan kopi dan Dabang semakin meningkat. Penikmat kopi di Korea memperluas pengetahuan mereka dengan budaya, gaya, cara olah dan juga penyajian kopi dari berbagai negara lain. Dari sini kedai kopi tidak lagi sekedar tempat untuk minum dan nongkrong saja, tapi juga tempat bekerja dan kepentingan lainnya.

Memasuki abad ke 21, Korea Selatan menjadi salah satu pasar kopi yang paling berkembang di dunia. Tahun 2013, menurut bea cukai di Korea, ada sekitar 120.000 ton biji kopi yang diimpor ke Korea. Hal itu membuat negara ini menjadi peminum kopi ketiga terbanyak di dunia setelah Filipina dan Singapura. Nggak heran kalau di Seoul sendiri ada 284 cabang Starbucks, sementara di New York City hanya ada 277.

Lanjut ke awal tahun 2016, Korea menghasilkan lebih dari 350.000 Barista bersertifikat! FYI, lebih banyak dari karyawan Strabucks sedunia loh, Daebak!

Sejak menyentuh abad 21, budaya minum kopi di Kore langsung berkembang pesat. Perkembangannya nggak cuma dalam jumlah kopi di banding negara lain, namun dari kualitas sampai penyajian pun Korea jadi punya ciri khas. Di sana kalau chingu memesan Latte, chingu akan disajikan dengan minuman yang sangat panas! Segelas Cappucino disajikan dengan kayu manis, dan kalau ingin kopi hitam biasa chingu cukup menyebutkan Americano, yakni espresso yang dituangkan air panas.

Baca juga: Minuman Kopi Unik yang Ada di Korea

Dengan semakin banyaknya persaingan, Dabang dan sajian kopi di Korea kini dituntut untuk menyajikan banyak kreasi unik. Kini di Seoul, hampir setiap 50 meter chingu akan bisa melihat berbagai macam kedai kopi, baik untuk nongkrong, belajar, bekerja, main game sampai dengan memanjakan binatang peliharaan kalian.

Apakah chingu sendiri punya pengalaman ngopi di Korea? Kira-kira apa bedanya budaya minum kopi kita dengan di sana? Jangan lupa tulis komentar kalian di bawah ya!

BAGIKAN
Alika Nugraha
Alika yang sering dipanggil 'teh' atau 'eonnie' kalau berkenalan secara online ini sebenarnya cowo tulen yang punya hobi menulis segala hal berbau Kpop. Masih sedang bertanya kepada diri sendiri sejak kapan playlist di gadget berubah dari A7X menjadi Got7