OUR NETWORK
Senin, September 16, 2019
OUR NETWORK

Lebih dari 33% Siswa Korea Selatan Berpikir Untuk Bunuh Diri Menurut Survei Terbaru

Hampir sepertiga dari remaja di Korea Selatan mengatakan bahwa mereka memiliki pikiran untuk bunuh diri setidaknya sekali dalam setahun terakhir karena tekanan pada kinerja skolastik mereka atau alasan lain.

Dalam survei oleh Institut Kebijakan Pemuda Nasional (NYPI) terhadap 9.060 siswa sekolah dasar, menengah dan atas antara Juni dan Agustus tahun lalu, 28,6 persen mengatakan mereka berpikir untuk melakukan bunuh diri sesekali dan 5,2 persen mengatakan mereka sangat sering melakukannya.

Penyebab terbesar dari pemikiran ini adalah tekanan akademis, dengan 37,2 persen menjawab demikian, sementara kekhawatiran tentang karir masa depan mereka adalah alasan terbesar kedua dengan 21,9 persen, diikuti oleh masalah keluarga sebesar 17,9 persen.

Para siswa mengatakan program studi ekstrakulikuler mereka membuat mereka memiliki sedikit waktu untuk bersantai atau melakukan hobi.

Lebih dari 45 persen siswa mengatakan mereka belajar selama lebih dari tiga jam setiap hari, di samping waktu yang dihabiskan di sekolah, dan waktu yang dihabiskan untuk belajar bertambah ketika siswa bertambah usia.

Selain itu, 44,2 persen mengatakan mereka memiliki kurang dari dua jam sehari waktu bebas untuk istirahat atau bersantai – 54,8 persen dalam hal siswa sekolah menengah atas. Juga, 23,5 persen anak-anak mengatakan mereka tidak berolahraga sama sekali.

Hampir 30 persen siswa juga mengatakan mereka berpikir setidaknya satu kali untuk putus sekolah. Mayoritas anak-anak ini mengaku karena mereka tidak mau belajar, sementara beberapa juga mengutip diskriminasi oleh guru atau intimidasi oleh teman sekelas.

Hampir 19 persen siswa mendapat kata-kata kasar dari guru sementara 12,2 persen mengatakan mereka menerima hukuman fisik di sekolah.

Sebelas persen siswa mengatakan mereka memiliki pekerjaan paruh waktu tapi 57,5 ​​persen dari mereka tidak menandatangani kontrak kerja dengan majikan mereka.

Akibatnya, 13,1 persen tidak dibayar atau menerima lebih sedikit uang daripada yang dijanjikan. Lebih dari 18 persen dibayar kurang dari upah minimum yang ditetapkan negara sementara 12,2 persen dilecehkan secara verbal oleh majikan mereka, 3,3 persen menderita kekerasan fisik dari majikan mereka, dan 3 persen mengalami pelecehan seksual.

Survei menemukan bahwa 5,1 persen anak-anak telah mengalami pelecehan seksual atau penyerangan selama setahun terakhir, termasuk lelucon seksual dan sentuhan yang tidak diinginkan. Tetapi 38,4 persen mengatakan tidak ada yang membantu mereka. Bahkan di antara mereka yang mencari bantuan, masing-masing hanya 8,5 persen dan 2,5 persen yang dibantu oleh sekolah atau polisi, sementara 23,1 persen dibantu oleh teman dan 18,8 persen oleh orang tua.

Sumber: (1)

Comments

Loading...